Selasa, 17 Agustus 2010
MERAH PUTIH TERUSLAH KAU BERKIBAR

MERAH PUTIH TERUSLAH KAU BERKIBAR!!! DIUJUNG TIANG TERTINGGI DI INDONESIAKU INI....
Sabtu, 14 Agustus 2010
RENCANA ACARA BUBAR COSTEAM2007

Hai temen temen....
kita mau ngadain acara lagi nieehh
buka puasa bareng lagi...
acara diawali dengan baksos, trus dilanjutkan dengan buka puasa bareng
di rumah taufik...tanggal 22 august,
jam 4 sore kumpul di skul tercinta,
info selanjutnya tunggu aja yaaaa....coz baru survey2 nie...
bagi anggota costeam2007 yang mau ikut silahkan daftar ke LUSIAWAHYU ya...
thx...
Senin, 24 Mei 2010
JIWA YANG SEHAT
By: agussyafii
Sebuah pohon yang memiliki akar dan batang yang sehat, pada suatu hari terserang badai, buahnya berjatuhan, daunnya berguguran, rantingnya patah, udara dingin menyengat daunnya berguguran, burung-burung memakan buah-buahan yang tersisa. Banyak orang mengatakan 'sungguh malang pohon itu.' namun semua itu tidaklah membuat pohon itu sendiri bersedih karena pohon itu dalam keadaan sehat maka dalam waktu singkat, pohon itu berdaun kembali, berbunga dan berbuah.
Pada dasarnya kita tak ubahnya seperti pohon itu. Jika jiwa kita sehat maka berdaun lebat, berbunga dan berbuah, menjadi tempat berlindung orang-orang yang tersengat panasnya matahari. Bahkan kita juga bisa seperti pohon yang dilempar batu orang yang lewat, pohon itu membalas dengan buahnya yang manis. Itulah pertanda jiwa yang sehat pada diri kita.
Bertahun-tahun kita bersusah payah dan sedikit demi sedikit mengumpulkan jerih payah namun terjadi peristiwa yang tak terduga seluruh jerih payah dan keringat menjadi sirna. Kefakiran telah menjadikan diri kita tidak berdaun dan tidak berbunga. Peristiwa kehilangan kekayaan, terbakarnya harta benda, dan banyak sekali peristiwa pahit walaupun mendatangkan kekecewan dalam hidup kita bagi jiwa yang sehat dan penuh dengan pengharapan tidak akan mendatangkan kesedihan yang berkepanjangan.
Musibah benar-benar terjadi tatkala merusak akar pohon. Jika itu yang terjadi maka melindungi tangkai buah dan daun tidaklah berguna. Demikian juga kita, jika jiwa yang sakit dilanda perasaan apatis, hidup sudah tidak berguna lagi, mudah menyerah, berprasangka buruk, merasa tidak memiliki teman sebagai tempat curhat, mencurigai siapapun, merasa sunyi ditengah keramaian, dilanda kegelisahan terus menerus. bila kita menjadi orang yang seperti ini kita tidak akan bisa memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Di dalam al-Quran menjelaskan bahwa kerugian yang sebenarnya adalah ketika kita kehilangan dimensi spiritual di dalam diri kita. Kehilangan harta, kita masih bisa cari. Namun bila kita kehilangan harapan dalam hidup maka sungguh sangat memprihatinkan. Terlebih lagi kehilangan keimanan maka itu menjadi bencana bagi kehidupan seseorang sebab iman adalah sumber pengharapan.
Keimanan menciptakan percaya diri, tawakal, dan optimisme dalam diri kita. Seseorang yang beriman menyikapi hidup penuh dengan harapan, setiap dalam sholatnya senantiasa berucap 'Hanya kepadaMu, Ya Allah kami menyembah dan hanya kepadaMu, Ya Allah kami memohon pertolongan.' Ketika seorang mukmin mengalami peristiwa yang menyakitkan sekalipun maka tidak membuatnya menjadi bersedih hati karena mampu bersabar dan mengatakan 'Ya Allah, kepadaMu kami berserah dan kepadaMu kami kembali.' Itulah yang disebut dengan jiwa yang sehat.
---
'Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.' (at-Thalaq: 2-3).
Wassalam,
agussyafii
----
Yuk, hadir di Kegiatan 'Amalia Cinta al-Quran (ACQ).' Hari Ahad, Tanggal 20 Juni 2010 Di Rumah Amalia, Jl. Subagyo IV blok ii, No.23 Komplek Peruri, Ciledug. Silahkan kirimkan dukungan dan partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii3, atau http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431.
Selasa, 23 Maret 2010
MENGHAYATI HIDUP DENGAN KASIH SAYANG
By: agussyafii
Secara psikologis orang yang sehat adalah orang yang mampu mendermakan cinta pada sesamanya. Sedangkan orang yang hatinya dipenuhi rasa permusuhan, dengki, cemburu dan kebencian semuanya merupakan beban mental yang menjurus pada penyakit kejiwaan.
Dalam Islam, penghayatan kasih sayang digunakanlah istilah ridha. Pengertian ridha adalah sikap yang didasari pengetahuan, kesadaran dan keyakinan bahwa kasih sayang Allah meluap memenuhi ruang dan waktu. Sesungguhnya hidup kita dalam lingkup kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sikap ridha akan selalu berpikir positif terhadap hidup karena dibalik fragmen kehidupan terkadang ada adegan-adegan yang pahit dan buram mekipun terkandung hikmah dari pancaran kasih sayang Allah.
Bagi orang yang mencapai derajat ridha akan selalu melihat hikmah dibalik musibah maupun cobaan. Setiap musibah menyimpan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, Allah melimpahkan kasih sayangNya. Dan kemungkinan kedua, karena kelalaian manusia itu sendiri. Dengan demikian ritme hidup kita ditandai dengan dialektika rasa syukur dan sikap sabar. antara harapan dan kecemasan, antara kelegaan dan penyesalan. Namun semua itu bagi orang yang ridha akan dihadapinya dengan sikap optimis dan pandangan positif karena begitu yakinnya akan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang dibentangkan melalui sayap Rahman dan RahimNya dan disisi lain melalui tawaran taubat dan maghfiroh atau ampunan.
Menurut al-Quran dijelaskan bahwa kehidupan dunia itu baik tetapi jauh lebih baik kalau kebaikan di dunia dijadikan wahana atau tangga untuk menuju kehidupan akherat yang lebih baik. 'The will to love' yang secara intrinsik dimiliki oleh kita akan menyesatkan kalau hanya mencintai yang fana atau semu. Maka bentuk ancaman dan perintah Allah yang tertuang di dalam kitab suci semuanya dalam konteks kasih sayang Allah untuk menyelamatkan kita agar tidak terjatuh menjadi hawa nafsunya sendiri atau menjadi hamba makhluk yang lebih rendah atau sama derajatnya dengan diri kita.
Rasa keterasingan, kesunyian ditengah keramaian, merasa kesepian dalam kesendirian akan terkikis secara emosional apabila kita memiliki hubungan yang hangat dengan Yang Maha Kasih. Ketiadaan hubungan kepada yang Maha Kasih inilah yang menimpa banyak orang sehingga begitu mudahnya terseret pada situasi putus asa bahkan sampai bunuh diri. Berdasarkan survei penyebab bunuh diri ditengah masyarakat justru bukanlah masalah yang teramat berat. Diantaranya karena kekecewaan akibat putus cinta, perselisihan rumah tangga, gagal dalam karier telah membuat seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Hal ini menunjukkan betapa dangkal dan lemahnya iman seseorang dalam menghayati hidup.
Dalam pandangan Islam, mereka telah terperosok dalam 'pinggiran' dimensi spiritual yang mampu menangkap dan merasakan kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam dirinya tidak bisa berfungsi. Hatinya telah tertutupi oleh nafsu bagi masuknya cahaya dan kasih sayang Allah sehingga mereka juga kehilangan kasih sayang yang ada pada dirinya.
Demikianlah bila dunia hanya pendekatan sistem, teknis dan teknologi semata akan memunculkan kehidupan yang kering, mekanik dan tidak manusiawi. Produk sistem dan teknologi tanpa visi cinta dan kasih sayang Ilahi Robbi maka menjadikan hidup kita tak ubahnya seperti robot, kesepian dalam keramaian, kesendirian tak berteman.
Paradigma kasih sayang akan menuntun kita sikap arif dan konsisten untuk mengembangkan potensi kemanusiaan maka realitas dunia tampak begitu indah sekaligus challenging, bukan fringtening. Orang Mukmin adalah 'Lover of Wisdom' atau Cinta Kearifan. Karena cinta kearifan dan semangatnya pada kemanusiaan maka Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam semakin nampak tegar dan anggun ditengah cobaan dan tantangan yang selalu menghadang dan mengitarinya. Lantas bagaimana dengan kita? Mampukah kita meneladani Nabi Muhammad?
Wassalam,
agussyafii


